LAPORAN PRAKTIKUM
INTEGRASI
PETERNAKAN
Kunjungan
Praktikum di PT Perkebunan Nusantara VI Jambi (Persero)
OLEH
AULYA RAHMAWATI
E10014001
A
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
PRAKATA

Dengan mengucapkan puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dan juga atas rahmat dan karunia-Nya kami bisa
menyelesaikan Laporan Pratikum di PT Perkebunan Nusantara VI Jambi (Persero).
Laporan ini dibuat untuk menyelesaikan tugas praktikum mata kuliah integrasi peterakan semester 5. Terimakasih
kami ucapkan kepada semua pihak yang
telah membantu, baik bantuan berupa moril maupun materil sehingga laporan ini
terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan. Kami menyadari di dalam
laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, serta ada kekurangan baik dari segi
tata bahasa maupun dalam hal penyajian. Untuk itu harapan kami jika ada kritik
dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan laporan selanjutnya kami
dilain waktu.
Harapan yang paling besar dari
penyusunan laporan ini
ialah mudah- mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk
pribadi, teman-teman, serta pembaca yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi, sebagai tambahan dalam
menambah referensi yang telah ada.
Jambi, Desember
2016
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan permintaan masyarakat
terhadap produk-produk peternakan khususnya pada daging sapi menunjukkan bahwa
kesadaran masyarakat terhadap pemenuhan gizi akan protein hewani semakin
meningkat. Namun tingginya permintaan tersebut belum bisa diimbangi dengan
peningkatan populasi sapi potong. Laju peningkatan populasi sapi potong menurut
Dirjen peternakan pada tahun 2008 hanya sekitar 6%, sedangkan kebutuhan
masyarakat tehadap daging sapi meningkat dengan pesat. Kondisi tersebut
mengakibatkan adanya kesenjangan antara permintaan dan penawaran (Erlangga 2012).
Proyek ternak
sapi yang dikembangkan oleh PTPN-VI merupakan bagian dari program Kementerian
BUMN dalam rangka mendukung Program Swasebada Daging Nasional pada tahun 2014,
dimana Kementerian BUMN mencanangkan Program SaSa (Integrasi Sapi-Sawit) dengan
target 100.000 ekor sapi pada tahun 2012. Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN
telah menugaskan BUMN Perkebunan sebanyak 11 perusahaan yang mempunyai kebun
kelapa sawit untuk beternak sapi. Dengan surat No. S- 240/MBU/2012 tanggal 9
Mei 2012 setiap BUMN diberikan alokasi jumlah ternak, yaitu PTPN I-VIII, XIII,
XIV dan PT RNI masing sebanyak 3.000, 5.000, 15.000, 15.000, 12.000, 10.000,
10.000, 5.000, 10.000, 5.000 dan 10.000. Total seluruhnya ada 100.000 ekor sapi
pada tahun 2012. Dahlan Iskan bahkan mengharapkan jumlah ini akan terus
bertambah seiring waktu. Namun demikian, program SaSa harus dilaksanakan dengan
mekanisme korporasi dan menjadi profit-centre di masing-masing PTPN.
Integrasi kelapa sawit – sapi seperti di
PT Perkebunan Nusantara VI Jambi –
Sumatera Barat ini dikembangkan dengan pendekatan Low External Input. System of
Agriculture (LEISA) dimana terjadi ketergantungan antara kegiatan tanaman dan
ternak, terjadi daur ulang optimal dari sumberdaya lokal yang tersedia,
sehingga limbah kebun kelapa sawit dan limbah pengolahan kelapa sawit
berpeluang untuk digunakan sebagai pakan ternak, sementara limbah ternak dapat
digunakan sebagai pupuk organik yang sangat baik untuk tanaman kelapa sawit (Umar, 2009).
Pakan ternak untuk ternak sapi terdiri
dari pakan hijauan, konsentrat dan suplemen (BPTP Sumbar, 2010). Hijauan adalah pakan utama bagi sapi yang
berasal dari rumputrumputan maupun campuran rumput dan tanaman legume. Menurut Hanusi (2005), tanaman kelapa sawit
dapat menghasilkan limbah berupa daun pelepah kelapa sawit yang didapat waktu
panen TBS. Pengembangan sistem integrasi sawit- sapi bertujuan untuk: 1)
mendukung upaya peningkatan kandungan bahan organik lahan pertanian melalui
penyediaan pupuk organik yang memadai, 2) mendukung upaya peningkatan
produktivitas tanaman, 3) mendukung upaya peningkatan populasi ternak sapi dan
produksi daging, serta 4) meningkatkan pendapatan petani atau pelaku pertanian (Suryana, 2009). Melalui kegiatan ini,
produktivitas tanaman maupun ternak menjadi lebih baik. Maka dari itu perlu
dilakukan kunjungan ke PTPN VI Jambi untuk menambah wawasan dalam hal
intergrasi sapi-sawit.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas
yang menjadi permasalahan dalam makalah laporan ini adalah bagaimana sistem
penggemukan dan pembibitan di PTPN VI Jambi, bagaimana formulasi ransum untuk
ternak sapi yang di gemukan, dan bagaimana pengolahan kompos dari kotoran sapi
yang dihasilkan.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penulisan laporan ini adalah
untuk (1) mengetahui potensi perkebunan kelapa sawit dalam penyediaan pakan
ternak (2) mengetahui manfaat yang diperoleh dari ternak sapi terhadap
perkebunan sawit (3) mengkaji potensi integrasi sawit – sapi dalam mendukung pertanian
berkelanjutan.
Tulisan ini merupakan hasil pemikiran
dan review tentang potensi perkebunan sawit dan pengembangan ternak sapi yang
dapat dilakukan melalui integrasi sawit sapi di PTPN VI Jambi, sebagai
pendukung pertanian berkelanjutan yang dikumpulkan melalui studi pustaka,
pengamatan secara langsung di lapangan serta pengumpulan data sekunder dari
instansi terkait. Sehingga, dapat di gunakan sebagai referensi untuk para
pembaca dalam membangun usaha di bidang peternakan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sapi
Faktor genetik ternak menentukan
kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak sedang faktor lingkungan memberi
kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya. Ditegaskan pula bahwa
seekor ternak tidak akan menunjukkan penampilan yang baik apabila tidak
didukung oleh lingkungan yang baik dimana ternak hidup atau dipelihara,
sebaliknya lingkungan yang baik tidak menjamin penampilan apabila ternak tidak
memiliki mutu genetik yang baik (Hardjosubroto,
1994).
Bangsa sapi mempunyai klasifikasi
taksonomi yaitu Phylum: Chordata, Subphylum: Vertebrata, Class: Mamalia,
Ordo: Artodactyla, Sub ordo: Ruminantia. Famili : Bovidae,
Genus: Bos, Spesies: Bos Indicus (Williamson and payne, 1993).
Sapi potong
memiliki beberapa kelebihan bila ditinjau dari nilai ekonomi dan pemanfaatannya
yaitu pada umumnya masyarakat lebih menyukai daging Sapi dibanding daging
ternak lainnya (kambing, domba, kerbau), Sapi banyak digunakan pada budaya
masyarakat, misalnya sebagai ternak qurban, sebagai ternak karapan (di madura),
sebagai ukuran penentu tingkat kesejahteraan sosial manusia dalam masyarakat,
Sapi sebagai salah satu bentuk tabungan masyarakat yang mudah dijual apabila
terdesak membutuhkan uang yang cepat. Kotoran sapi bila diolah dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk dan bahan bakar alternatif (biogas). Usaha sapi juga
membutuhkan tenaga kerja sehingga dapat membuka lapangan kerja yang dapat
menghidupi banyak keluarga (Sugeng,
1996).
Pertumbuhan dan Penggemukan Ternak Sapi
Pertumbuhan adalah pertambahan
dalam bentuk dan berat jaringan-jaringan pembangun seperti urat daging, tulang,
otak, jantung, dan semua jaringan tubuh, serta alat-alat tubuh lainnya. Pada
umumnya pertumbuhan pada ternak mamalia dapat dibagi dalam dua periode utama,
yaitu pre-natal dan post-natal. Pre-natal yaitu pertumbuhan yang berlangsung
antara waktu ovum dibuahi sampai anak lahir, sedangkan post-natal yaitu
pertumbuhan setelah lahir (Anggorodi,
1990). Menurut Tillman et al.,
(1993) pertumbuhan adalah kenaikan bobot badan dengan melakukan pengukuran
berulang-ulang dan dinyatakan dengan pertambahan berat badan tiap hari, tiap
minggu atau tiap satuan waktu lainnya.
Dalam pertumbuhan seekor ternak
ada dua hal yang terjadi yaitu: Pertumbuhan yaitu bobot badan meningkat sampai
mencapai bobot badan dewasa, sedangkan perkembangan yaitu terjadi perubahan
konformasi dan bentuk tubuh serta berbagai fungsi dan kemampuannya untuk
melakukan pertumbuhan yang optimal.
Kurva hubungan antara bobot badan
dengan umur adalah suatu bentuk S (sigmoid). Ada fase awal yang pendek dimana
bobot badan sedikit meningkat dengan meningkatnya umur. Hal ini diikuti oleh
pertumbuhan eksplosif, kemudian akhirnya ada satu fase dengan tingkat
pertumbuhan yang sangat rendah (Lawrie,
1995).
Penggemukan bertujuan untuk
memperbaiki kualitas karkas dengan cara mendeposit lemak seperlunya. Apabila
ternak belum dewasa yang digunakan dalam usaha penggemukan maka sifatnya
membesarkan sekaligus memperbaiki kualitas karkas (Parakkasi, 1995). Pengurangan pakan akan memperlambat kecepatan
pertumbuhan dan bila pengurangan pakan yang signifikan akan menyebabkan ternak
kehilangan berat badannya (Tillman et
al, 1993). Tingkat konsumsi juga dipengaruhi oleh tubuh ternak dimana
semakin besar atau berat tubuh ternak maka semakin banyak pula pakan yang
dikonsumsi oleh ternak itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Murtidjo,1993).
Sapi potong mempunyai potensi
genetik pertumbuhan yang tinggi mempunyai respon yang baik terhadap pakan yang
diberikan dan memiliki efisiensi produksi yang tinggi dan adanya keragaman yang
besar dalam konsumsi bahan kering (Devendra,
1997).
Tingkat konsumsi bahan kering
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: faktor ternak yaitu berat badan,
umur, kondisi tubuh, serta stress yang diakibatkan oleh lingkungan, pakan yaitu
sifat fisik dan komponen kimia pakan (Parakkasi,
1995). Menurut Church (1986)
konsumsi juga dipengaruhi oleh palatabilitas pakan tersebut.
Jumlah konsumsi bahan kering pakan
dipengaruhi beberapa variabel meliputi palatabilitas, kecernaan dan komposisi
kimia serta kualitas bahan pakan. Penentu tingkat konsumsi adalah keseimbangan
zat pakan dan palatabilitas. Parakkasi
(1995) menyatakan bahwa yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak
untuk mengkonsumsi pakan adalah palatabilitas, dimana palatabilitas
mempengaruhi konsumsi bahan kering, jumlah pakan yang tersedia dan komposisi
kimia pakan.
Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia
Proses utama dari pencernaan
adalah secara mekanik, hidrolisis, dan fermentatif. Proses mekanik terdiri dari
mastikasi atau pengunyahan dalam mulut dan gerakan-gerakan saluran pencernaan
yang dihasilkan oleh kontraksi otot sepanjang usus. Pencernaan secara
fermentatif dilakukan oleh mikroorganisme rumen (Tillman et al, 1993).
Pencernaan adalah rangkaian proses
yang terjadi dalam saluran pencernaan sampai memungkinkan terjadinya penyerapan
(Meynard and Loosly, 1979). Frandson
(1992) menyatakan bahwa bagian-bagian dari saluran pencernaan adalah mulut,
pharinks, oesophagus (pada ruminansia merupakan perut depan atau forestomach),
perut glandular, usus halus, usus besar serta glandula aksesoris yang terdiri
dari glandula saliva, hati, dan pankreas.
Pakan Sapi
Pakan adalah semua bahan yang bisa
diberikan dan bermanfaat bagi ternak serta tidak menimbulkan pengaruh negatif
terhadap tubuh ternak. Pakan yang diberikan harus berkualitas tinggi yaitu
mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh ternak (Parakkasi, 1995). Widayati
dan Widalestari (1996), menyatakan bahwa pakan yang diberikan jangan
sekedar dimaksudkan untuk mengatasi lapar atau sebagai pengisi perut saja,
melainkan harus benar-benar bermanfaat untuk kebutuhan hidup pokok, membentuk
sel-sel baru, menggantikan sel yang rusak, dan untuk produksi.
Pakan ternak ruminansia pada
umumnya terdiri dari hijauan (rumput dan leguminosa) dan konsentrat. Hijauan
pakan merupakan pakan kasar yang terdiri dari hijauan pakan yang padat, dapat
berupa rumput lapangan, limbah hasil pertanian, rumput jenis unggul yang telah
diintroduksikan beberapa jenis leguminosa. Sedangkan konsentrat merupakan bahan
pakan penguat yang terdiri dari bahan pakan yang kaya karbohidrat dan protein.
Pemberian pakan berupa kombinasi kedua bahan tersebut akan memberi peluang
terpenuhinya zat-zat gizi dan biaya relatif rendah (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
Jumlah kebutuhan ternak ruminansia
terhadap pakan setiap hari sangat tergantung pada jenis, umur, fase pertumbuhan
(dewasa, bunting, dan menyusui), kondisi ternak (normal dan sakit), bobot badan
dan faktor lingkungan (Kartadisastra,
1997). Kondisi pakan baik kualitas maupun kuantitas yang tidak mencukupi
kebutuhan akan menyebabkan produktifitas ternak menjadi rendah yang ditunjukkan
oleh laju pertumbuhan yang lambat serta berat badan yang rendah (Martawidjaya et al., 1999). Kebutuhan
nutrisi Sapi tertera pada Tabel 1.

Pelepah Daun Kelapa Sawit
Pelepah daun kelapa sawit dapat
dijadikan sebagai pengganti sumber serat kasar. Bila dilihat dari kandungan
protein kasar, daun kelapa sawit setara dengan mutu hijauan. Selain itu juga
pelepah daun kelapa sawit merupakan limbah padat perkebunan kelapa sawit dimana
keberadaannya cukup melimpah sepanjang tahun khususnya di Sumatera Utara. Akan
tetapi menurut Sutardi (1999) bila
dilihat kandungan serat kasarnya cukup tinggi sehingga mempengaruhi tingkat
kecernaan pakan.
Pemanfaatan pelepah daun sawit
sebagai bahan pakan ternak ruminansia disarankan tidak melebihi 30%. Untuk
meningkatkan konsumsi dan kecernaan pelepah daun kelapa sawit dapat ditambahkan
produk sampingan lain dari pengolahan kelapa sawit seperti bungkil inti sawit,
lumpur sawit (solid), dan serat perasan buah (Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2003). Adapun
kandungan gizi pelepah daun sawit dapat dilihat pada Tabel 2.
Zat nutrisi
|
Kandungan (%)
|
Bahan kering
|
26,07a
|
Protein kasar
|
6,05b
|
Lemak kasar
|
4,47a
|
Serat kasar
|
32,50a
|
BETN
|
39,82a
|
TDN
|
45,00a
|
Ca
|
0,96a
|
P
|
0,08a
|
Energi (Mcal/ME)
|
56,00c
|
Sumber : a.
Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2003)
b. Laboratorium Ilmu Makanan
Ternak Jurusan Peternakan, FP-USU (2000)
c. Balai Penelitian
Bioteknologi Tanaman Pangan Bogor (2000)
Molasses
Molasses atau tetes merupakan
hasil samping pabrik gula tebu yang berbentuk cairan kental agak
kekuning-kuningan. Molasses dapat diganti sebagai bahan pakan ternak yang berenergi
tinggi. Disamping rasanya manis yang bisa memperbaiki aroma dan rasa pakan,
keuntungan penggunaan molasses sebagai bahan pakan ternak adalah kadar
karbohidratnya yang tinggi, mineral, vitamin yang cukup sehingga dapat
digunakan walau hanya sebagai pendukung (Rangkuti
et al., 1985). Adapun kandungan gizi molasses dapat dilihat pada Tabel
3.
Zat nutrisi
|
Kandungan (%)
|
Bahan kering
|
67,5
|
Protein kasar
|
4,00
|
Lemak kasar
|
0,08
|
Serat kasar
|
0,38
|
TDN
|
81,00
|
Ca
|
15
|
P
|
0,02
|
Sumber : Laboratorium Ilmu Makanan Ternak
Jurusan Peternakan, FP-USU (2000)
Garam
Garam diperlukan oleh sapi sebagai
perangsang menambah nafsu makan. Garam juga sebagai unsur yang dibutuhkan dalam
kelancaran pekerjaan faali tubuh. Menurut Lassiter
and Edward (1982) garam yang dimaksud adalah garam dapur (NaCl), dimana
selain berfungsi sebagai mineral juga berfungsi meningkatkan palatabilitas.
Garam tersebut merangsang sekresi
saliva. Terlalu banyak garam akan menyebabkan retensi air sehingga menimbulkan
odema. Defisiensi garam lebih sering terdapat dalam hewan herbifore daripada
hewan lainnya. Ini disebabkan hijauan dan butiran mengandung sedikit garam.
Gejala defisiensi garam adalah nafsu makan hilang, bulu kotor, makan tanah,
keadaan badan tidak sehat, produksi menurun sehingga menurunkan bobot badan (Anggorodi, 1990). Konsumsi Pakan
Tingkat konsumsi adalah jumlah
pakan yang dikonsumsi oleh ternak. Menurut Parakkasi
(1995) bahwa yang menjadi faktor penentu tingkat konsumsi adalah
keseimbangan zat makanan dan tingkat palatabilitas. Konsumsi pakan juga
dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ternak, selain menurunnya nafsu makan,
ternak yang sakit juga tidak mau berjalan untuk mendekati tempat pakan dan air
minum.
Suhu yang tinggi juga dapat
menyebabkan nafsu makan menurun dan meningkatnya konsumsi air minum. Hal ini
mengakibatkan otot-otot daging lambat membesar sehingga daya tahannya pun
menurun (Tillman et al., 1993).
Pertambahan Berat Badan
Laju pertambahan berat badan
dipengaruhi oleh umur ternak, lingkungan, dan genetika dimana lingkungan dalam
hal ini konsumsi pakan. Bobot tubuh awal fase penggemukan berhubungan dengan
bobot dewasa. Pertambahan berat badan merupakan salah satu kriteria yang
digunakan untuk mengukur pertumbuhan (Sugeng,
1996).
Parakkasi
(1995) menyatakan bahwa
ternak yang mempunyai sifat dan tingkat konsumsi yang lebih tinggi, maka
produksinya juga lebih tinggi dibanding ternak sejenis yang konsumsinya lebih
rendah.
Konversi Pakan
Konversi pakan adalah perbandingan
antara jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot bedan yang dicapai
dalam kurun waktu yang sama. Konversi pakan merupakan suatu indikator yang
dapat menerangkan tingkat efisiensi penggunaan pakan, dimana semakin rendah
angkanya berarti semakin baik konversi pakan tersebut (Anggorodi, 1990).
BAB III
MATERI DAN METODA
2.1 Tempat dan Waktu
Praktikum
Integrasi Peternakan ini di laksanakan PT
Perkebunan Nusantara VI Jambi (Persero) di pada hari Sabtu, tanggal 3
Desember 2016 pukul 08.00 WIB sampai selesai.
2.2 Materi
Alat dan bahan yang digunakan yaitu
alat tulis.
2.3 Metoda
Praktikum di laksanakan
dengan cara mengamati dan mendengarkan penjelasan dari dokter hewan di PTPN IV
tersebut.
BAB IV
PEMBAHASAN
Kunjungan
ke PT Perkebunan Nusantara VI Jambi- Sumatera ini di lakukan pada hari Sabtu,
tanggal 3 Desember 2016 dalam rangka praktikum
Mata Kuliah Integrasi Peternakan.
3.1 Gambaran Umum PTPN VI Jambi
a. Sejarah Umum PTPN VI Jambi
PT
Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI Jambi) merupakan tipe perusahaan BUMN.
Perusaahaan ini memiliki dua bisnis inti, dengan komposisi 95% bisnis kelapa
sawit dan 5% bisnis teh. Areal perusahaan tersebar di dua wilayah yaitu
Provinsi Jambi dan Sumatera Barat. PT Perkebunan Nusantara VI merupakan
Perusahaan Agro Industri yang mengusahakan perkebunan dan pengolahan hasil
perkebunan kelapa sawit dan teh. Arah pengembangan usaha saat ini
berkonsentrasi kepada kelapa sawit secara horisontal melalui perluasan areal
tanaman serta mengingkatkan kapasitas terpasang pabrik pengolahan kelapa sawit.
b.Dasar hukum
Pendirian
PTP Nusantara VI ini berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 1996
dan pengesahan dengan Akta Notaris Harun Kamil SH, Nomor 39 tahun 1996
berkedudukan Kantor Direksi di Padang yang telah diubah dengan Akte Notaris Sri
Rahayu Hadi Prasetyo, SH Jakarta No mor 19 Tahun 2002 tanggal 30 September 2002
bahwa Kantor Direksi berkedudukan di Jambi.
Integrasi Sapi Sawit di PT
Perkebunan Nusantara VI (Persero) dimulai dengan mendirikan Unit Usaha
Integrasi Sapi Sawit pada bulan Februari 2012. UU.ISS terletak di Desa Muaro
Sebo Kecamatan Jaluko Kabupaten Muaro Jambi dengan jarak dari kota Jambi ± 45
km atau dari kota Muara Bulian ± 30 km. Lokasi untuk Unit Usaha Integrasi Sapi
Sawit memanfaatkan lokasi eks.pabrik CRF yang sudah tidak beroperasi selama
sekitar ± 4 tahun.
Perusahaan
di dirikan dengan modal saham yang 100% milik pemerintah senilai Rp 350 milyar
dan telah disetor Rp 200 milyar. Perusahaan memiliki 2 strategi yaitu strategi
korporasi dan strategi bisnis.
1. Strategi
korporasi
Dengan
mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan internal dibandingkan peluang dan
ancaman seperti yang digambarkan pada peta grafis posisi perusahaan, maka
strategi korporasi PT Perkebunan Nusantara VI dalam mewujudkan visi dan misi
perusahaan adalah diversifikasi konsentrik yang dapat ditempuh melalui usaha
patungan (joint-venture). Dalam kaitan tersebut perusahaan melakukan langkah-langkah:
a. Sistem
pengendalian manajemen dengan menerapkan Strategic Business Unit (SBU)
dibeberapa unit/ kebun sebagai Pilot Project.
b. Konversi
tanaman karet menjadi kelapa sawit
c. Optimalisasi
asset non produktif melalui divestasi dan atau memanfaatkan nya melalui aliansi
strategis.
d. Penyesuaian
struktur organisasi sebagai kebutuhan
2. Strategi
bisnis
Mengingat
bahwa salah satu ciri bisnis perkebunan adalah harga jual ditentukan pasar,
maka strategi yang ditempuh adalah kepemimpinan biaya yang menyeluruh (Cost
Leadership) yaitu menciptakan harga pokok serendah-rendahnya untuk
memaksimalkan profit margin dengan tetap memperhatikan tujuan jangka panjang
perusahaan melalui penetapan Strategic Business Unit (SBU) secara bertahap
seluruh unit/kebun.
Head
Office
|
Representative
Office
|
|
Alamat
|
JL.
Lingkar Barat KM 10 Kota Baru Jambi
|
JL.
Tebet Utara III No 9 Jakarta Selatan, Jakarta
|
Kode
pos
|
36128
|
12810
|
Phone
|
0751-25690
|
021-8354802
|
Email
|
||
Fax
|
0751-445500
|
021-8354805
|
Website
|
www.ptpn6.com
|

Bagan 1.Struktur organisasi
Unit Usaha Integrasi Sapi Sawit
3.2 Sistem Pemeliharaan
Pemeliharaan
ternak yang baik merupakan salah satu tahapan kegiatan penting untuk menunjang
keberhasilan integrasi sapi sawit. Kegiatan pemeliharaan mencakup tahapan persiapan dan perawatan. Sapi
yang baru tiba di peternakan harus diberi perlakuan khusus untuk mengembalikan
kondisi yang menurun akibat stres setelah menempuh perjalanan. Pemberian
vitamin dan obat cacing diberikan ketika sapi baru tiba di peternakan. Periode
penggemukan adalah 120-160 hari, dan perlu penanganan khusus seperti dari
persiapan kandang, penimbangan, pemotongan kuku, pemandian sampai dengan
pemberian multivitamin dan suplemen makanan lainnya untuk meningkatkan
vitalitas sapi yang digemukkan. Sapi perlu dikelompokkan berdasarkan ukuran
tubuhnya untuk mencegah persaingan agar tidak terjadi sapi yang kecil tidak
mendapat jatah pakan.
a. Rumpun sapi bakalan
Sapi
yang dikelola adalah ras sapi Bali dan PO (Peranakan Ongole), serta sebagian
kecil jenis Simental, FH (Fries Holstein), dan lain-lain. Sapi yang dikelola
berjumlah 1066 ekor dengan komposisi 70% penggemukan (fattening) dan 30%
pembiakan (breeding). Bakalan sapi tersebut dibeli dari Sentra
Pembibitan Sapi di Indonesia dan telah mendapat rekomendasi dari Pemerintah
(Dinas Peternakan). Bakalan sapi yang dibeli berumur minimal 12 bulan.
Pemilihan bakalan sapi jenis lokal ini disebabkan karena daya adaptifnya
terhadap lingkungan cukup baik serta tahan terhadap perubahan jenis pakan.
b. Sistem perkandangan
Penggemukan dan pembiakan
dilakukan dengan sistem intensif yaitu sapi tetap berada di kandang, tidak
digembalakan di luar kandang. Digunakan sistem kandang koloni/komunal yaitu
model kandang yang menempatkan beberapa ekor ternak secara bebas tanpa diikat
dengan norma 3 m2 per ekor sapi. Untuk alas kandang diberikan fiber hasil by-product
dari pabrik kelapa sawit. Keunggulan Sistem Kandang Koloni adalah:
1. Efisiensi
penggunaan tenaga kerja, satu orang anak kandang mengelola 100-150 ekor sapi
2. Tidak
membutuhkan pengamatan khusus terhadap aktivitas reproduksinya karena ternak
kawin sendiri
3. Pembersihan feses 3-4 kali dalam satu
tahun.
3.3 Prosedur Formulasi Ransum Sapi
Daya dukung kebun kelapa
sawit
Perkebunan
kelapa sawit adalah lumbung bahan pakan yang “tidur” yang belum dimanfaatkan
secara optimal untuk mendukung percepatan peningkatan populasi sapi di
Indonesia. Walaupun demikian, produksi pelepah yang bisa digunakan maksimum
hanya 50% dari pelepah yang berasal dari proses panen, sisanya harus tetap
berada di kebun untuk mencegah erosi dan tetap mempertahankan iklim mikro
tanaman. Dengan asumsi tersebut maka 1 ha kebun kelapa sawit dapat mensuplai
hijauan untuk 1 ekor sapi. Sumber pelepah Unit Usaha Integrasi Sapi Sawit
berasal Unit Usaha Batanghari yang jaraknya ±7,2 km. Luas efektif Unit Usaha
Batanghari adalah 2.025 ha sehingga dapat mensuplai hijauan untuk 2.000 ekor
sapi.
Formula pakan
Melalui
pola Integrasi Sawit Sapi, pelepah sawit akan menjadi komponen utama sebagai
pengganti hijauan rumput, ditambah dengan limbah dari pabrik kelapa sawit
berupa bungkil inti sawit, onggok, dedak padi, molasses, garam, dan kapur.
Pakan tersebut diberikan dua kali sehari dengan formula pakan seperti terlihat
dalam Tabel 5. Sementara itu, proses pembuatan pakan (Gambar 5)
Komposisi pakan
|
Persentase pakan saat
ini
|
Persentase pakan saat
ini
|
Persentase pakan
ideal
|
Cacahan pelepah sawit
|
50
|
5
|
Terus diuji oleh beberapa
peneliti untuk mendapatkan komposisi terbaik
|
Bungkil inti sawit
|
28
|
2,8
|
|
Dedak
|
5
|
0,5
|
|
Onggok
|
15
|
1,5
|
|
Garam
|
1
|
0,1
|
|
Mollases
|
1
|
0,1
|
|
Kapur
|
0,1
|
0,01
|
|
Jumlah
|
100,01
|
10,01
|

Pada saat ini penyusunan formula
komposisi pakan terus menerus dilakukan untuk mendapatkan formulasi yang ideal
yang bekerja sama dengan Dinas Peternakan, Balai Penelitian Sapi Potong dan
Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
Uraian
|
%
|
Bahan kering
|
55,04
|
Abu
|
7,25
|
Lemak kasar
|
2,80
|
Serat kasar
|
24,75
|
Protein kasar
|
11,84
|
3.4 Prosedur Pembuatan Kompos Kotoran Sapi
Kotoran sapi
basah yang dihasilkan per hari per ekor sapi rata-rata 7 kg dan waktu
pembongkaran kotoran sapi dilakukan tiga bulan sekali. Selama periode tersebut,
sapi tidak dimandikan dan tidak terlihat mengalami penyakit gangguan kulit atau
penyakit lainnya. Kompos eks kotoran sapi yang telah dibongkar, pada saat ini
telah dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada areal TBM dan TM dengan dosis 50
kg/pokok. Dosis tersebut berdasarkan rekomendasi dari Pusat Penelitian Kelapa
Sawit, didasarkan dari hasil analisa kotoran sapi oleh laboratorium Pusat
Penelitian Kelapa Sawit. Hasil analisa kotoran sapi dapat dilihat pada Tabel 7.
Kompos kotoran sapi telah diaplikasikan di Unit Usaha Batanghari mulai bulan
September 2012 dan berpengaruh terhadap kenaikan rata-rata berat tandan seperti
yang terlihat pada Tabel 8. Pada saat ini, juga sedang dilakukan penelitian
untuk membuat pupuk majemuk organik asal kotoran sapi bekerja sama dengan Pusat
Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).
Parameter
|
Satuan
|
Hasil
uji
|
Metode
uji
|
Nitrogen
|
%
|
1,78
|
SNI
2803.2010
|
P2O5
|
%
|
0,37
|
SNI2803.2010
|
K2O
|
%
|
0,36
|
SNI 2803.2010
|
MgO
|
%
|
0,48
|
AAS
|
CaO
|
%
|
1,06
|
AAS
|
Fe2O3
|
%
|
0,19
|
AAS
|
S
|
-
|
Negatif
|
Gravimetri
|
B
|
Ppm
|
0,05
|
Spektrofotometri
|
Cu
|
%
|
46
|
AAS
|
Mn
|
%
|
0,01
|
AAS
|
Zn
|
Ppm
|
33
|
AAS
|
Ph
|
-
|
8,82
|
Potensiometri
|
C organik
|
%
|
51,79
|
Gravimetri
|
Kaadar air
|
%
|
64,49
|
SNI 02.2804.2005
|
Jenis kecambah
|
Afd
|
Blok
|
Tahun tanam
|
Rata-rata tandan (RBT) kg
|
+/-
|
|
Sofindo
|
I
|
21
|
1992
|
12,69
|
13,16
|
1,03
|
PPKS
|
I
|
29
|
2002
|
15,48
|
15,84
|
0,36
|
BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pelepah sawit dapat digunakan
sebagai sumber serat dalam pakan komplit sapi potong dengan menambahkan sumber
protein maupun mineral. Model integrasi sapi dan kelapa sawit secara intensif
menghasilkan pupuk kandang yang sesuai diaplikasikan untuk tanaman kelapa
sawit.
3.2 Saran
Penyusun berharap kepada pembaca
untuk menyimak, mempelajari dan menggunakan laporan Kunjungan
Praktikum Integrasi peternakan Integrasi Sawit-Sapi Di Pt Perkebunan Nusantara VI Jambi (Persero)
sebagai motivasi dan menjadi referensi kepada pembaca dalam melakukan kegiatan
usaha disektor peternakan. Akhirnya penulis sadari sepenuhnya bahwa laporan yang kami susun jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat
penulis harapkan. Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan laporan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia R,
Yusuf MA. 2012. Prospek ISSE dalam mendukung kemandirian bangsa Indonesia.
Sawit Media. Edisi 5/IX/2012.
Batubara, L.
2002. Potensi Biologis Daun Kelapa Sawit Sebagai Pakan Basal dalam Ransum Sapi
Potong. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner. Puslitbang Peternakan Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian
Bogor.
Berkelanjutan.
Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Universitas Sumatera Utara.
Chen CP, and
Othman O. 1984. Performance of Tropical Forages Under The Closed Canopy Of Oil
Palm II.Legumes. MARDI Research Bull. Vol. 12 : p. 21 – 37.
Departemen
Pertanian. 2010. Pedoman Teknis Pengembangan Usaha Integrasi Ternak Sapi dan
Tanaman. Kementerian Pertanian. Direktorat Jendral Peternakan. Direktora
Budidaya Ternak Ruminansia.
Depertemen
Pertanian Bekerjasama dengan Pemerintah Bengkulu dan PT.Agricinal.
Dinas Perkebunan
Provinsi Jambi. 2012. Statistik Perkebunan Provinsi Jambi Tahun 2011. Dinas
Perkebunan . Pemerintah Provinsi Jambi.
Diwyanto, K., D.
Sitompul, I. Manti, I.W. Mathius, dan Soentoro. 2004. Pengkajian Pengembangan
Usaha Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Prosiding Lokakarya Nasional.
Bengkulu, 9 - 10 September 2003. Depertemen Pertanian Bekerjasama dengan
Pemerintah Bengkulu dan PT. Agricinal
Elisabeth, Y,
S.P. Ginting. 2004. Pemanfaatan Hasil Samping Industri Kelapa Sawit Sebagai
Bahan Pakan Ternak Sapi Potong. Dalam : Prosiding Lokakarya Nasional. Bengkulu,
9-10 September 2003. Depertemen Pertanian Bekerjasama dengan Pemerintah
Bengkulu dan PT.Agricinal.
Erlangga E.
2012. Asyiknya panen rupiah dari beternak sapi potong. Pustaka Agro Mandiri.
Pamulang-Tangerang Selatan.
Fikar S,
Ruhyadi D. 2010. Beternak dan bisnis sapi potong. PT Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Hanavi, N.D.
2007. Keragaan pastura campuran pada berbagai tingkat naungan dan aplikasinya
pada lahan perkebunan kelapa sawit. Sekolah Pasca Sarjana. IPB.
Jalaluddin, S,
Z.A. Jelan, N. Abdullah and Y.W. Ho. 1991. Recent Development in the Oil
Palm by Product Based Ruminant Feeding System. Prc.MSAP, Penang, Malaysia.
Pp. 35-44.
Jambi News.
2011. Jambi Import Ribuan Ternak Potong. Terbit Jumat, 04 November 2011
Kawamoto, H.,
M.W.Azhari, N.I.M. Shukur, M.S. Ali, J. Ismail and S. Oshiho. 2002. Palatability
Digestibility and Volumary Intake of Processed Oil Fronds in Cattle. Dalam: Prosiding
Lokakarya Nasional. Bengkulu, 9 – 10 September 2003.
Majalah
Tanam. 2013. ISS jadi proyek nasional. Majalah Tanam edisi III.Tahun II
Januari- Februari 2013.
Mulyani, S.M.
dan A.G. Kartasapoetra. 1991. Pupuk dan Cara Pemupukan. Penerbit PT. Rineka
Cipta. Jakarta.
Pusat
Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). 2012. Integrasi sawit, sapi dan energi. Edisi
I. 2012.
Reksohadiprodjo,
S. 1988. Pakan Ternak Gembala. Penerbit BPFE . UGM . Yogyakarta.
Rika I.K.,
Mendra I.K., Oka I.G.M., dan Oka N. 1991. Forage Species for Coconut
Plantation in Bali. Forage for Plantation Crops. ACIAR Proc 32:168 – 170.
Siregar Z.,
Hasnudi., S. Umar., dan I. Sembiring. 2005. Tim Jurusan Peternakan Fakultas
Pertanian USU. Bekerjasama dengan PTPN IV dalam rangka membangun pabrik pakan
ternak berbasis limbah sawit.
Suryana. 2009.
Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong Berorientasi Agribisnis Dengan Pola
Kemitraan. Jurnal Litbang Pertanian.Vol. 28(1). Hal. 29-37
Umar, S. 2009.
Potensi Perkebunan Kelapa Sawit sebagai Pusat Pengembangan Sapi Potong dalam
Merevitalisasi dan Mengakselerasi Pembangunan Peternakan
Umiyasih, U. dan
Anggraeny Y.N. 2003. Keterpaduan Sistem Usaha Perkebunan dengan Ternak:
Tinjauan tentang ketersediaan Hijauan Pakan untuk Sapi Potong di Kawasan
Perkebunan Kelapa Sawit. Pasuruan. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Peternakan.
PS: untuk kalian yang lagi cari kado untuk wisuda, anniversary, ulang tahun dll bisa langsung follow dan custom order DOODLEART di instagram @byaulyaraa. yuk kepoin instagramnya :):)
PS: untuk kalian yang lagi cari kado untuk wisuda, anniversary, ulang tahun dll bisa langsung follow dan custom order DOODLEART di instagram @byaulyaraa. yuk kepoin instagramnya :):)
0 comments:
Posting Komentar